Anakku...
Bagaimana
kabarmu, apakah kamu baik-baik saja? Di rumah, ibumu juga sehat.
Sekarang ini aku sedang memandangi cermin dan fotomu. Tiba-tiba aku
menjadi sadar bahwa aku sudah mulai tua. Kerut merut di wajahku sudah
semakin banyak dan aku tidak cekatan lagi seperti dulu. Aku sering iri
padamu yang selalu ceria, riang, aktif dan penuh dinamika. Akupun pernah
mengalami seperti itu dulu.
Anakku...
Ketika
menikah dengan ayahmu, aku tidak pernah membayangkan akan mempunyai
anak seperti kamu. Sungguh, aku bangga padamu. Setelah engkau besar
kini, aku baru sadar betapa kecilnya aku ini, betapa tidak berartinya
aku. Engkau lahir dan tumbuh semata-mata karena mukjizat dan rahmat
Tuhan belaka.





